PELATIHAN PEMBUATAN KOMPOS SEBAGAI PUPUK ORGANIK

  2015-10-15   I Gede Karianto   Informasi Sekolah

Minggu siang (22/3/2015) kemarin, cuaca sedikit mendung. Namun gerimis tidak menyurutkan semangat para peserta pelatihan Pembuatan Pupuk Organik di Aula Kecamatan Nuha. Pelatihan yang dihadiri oleh para ibu Tim Penggerak PKK perwakilan desa-desa di Kecamatan Nuha  beserta para bapak-bapak yang turut berpartisipasi ini berlangsung dalam dua sesi, teori dan praktek. Pada kesempatan kali ini Pokja Publikasi dalam rangka Sekolah Adiwiyata SD YPS Lawewu juga berkesempatan menimba ilmu.

Pelatihan ini didukung oleh Pemerintah Kecamatan Nuha, PT. Vale, beserta komunitas Sorowako Volunteer Community (SVC). Ibu Camat Nuha yang hadir dalam pelatihan menyampaikan tujuan akhir pelatihan ini adalah agar Rumah Kompos dan lahan TOGA (Tanaman Obat Keluarga) di Kantor Kecamatan Nuha dapat dikelola bersama oleh seluruh warga dengan dimotori Tim Penggerak PKK seluruh desa di Kecamatan Nuha.

Pupuk organik adalah pupuk yang terbuat dari bahan-bahan alami yang diproses oleh mikroorganisme melalui fermentasi dalam waktu yang tertentu. Pupuk organik terdiri dari 2 jenis, Pupuk Organik Cair (POC) dan Pupuk Organik Padat (POP). Pelatihan pembuatan MOL telah dilakukan 2 minggu sebelumnya. Pupuk organik cair dikenal dengan MOL, atau Mikro Organism Lokal (MOL). MOL adalah cairan yang terbuat dari bahan-bahan yang disukai oleh mikroorganisme sebagai media hidup maupun berkembang biak. Bahan-bahan pembuatan MOL seperti air cucian beras, air kelapa, gula merah, dan lain sebagainya. Peran dan fungsi MOL adalah sebagai activator, decomposer, penambah nutrisi, dan bio pestisida. Bahan kimia yang biasa menggantikan peran MOL dalam pembuatan kompos adalah EM4.

Pelatihan di hari Minggu kemarin, berfokus pada Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik Padat (POP) atau kompos. Tujuan pembuatan kompos adalah (1) untuk memperbaiki sifat fisik tanah agar kembali subur dan (2) menyediakan nutrisi bagi tanaman.

Pemateri pada pelatihan kali ini adalah Bapak Kariman, konsultan padi organik yang didatangkan oleh pihak External Relations PT Vale. Ia banyak berbagi pengalaman berharga, salah satunya tips menangani penyakit jamur akar putih pada merica, yang juga ditandai dengan daun yang menguning. Salah satu tipsnya adalah penyemprotan dengan MOL buah maja/ buah bila. Berdasarkan pengalamannya, jamur akar putih juga sering menyerang karet, bahkan sayur-sayuran, dan belum bisa diatasi dengan obat atau fungisida, namun dapat dicoba diatasi dengan MOL buah maja. Salah satu penyebabnya, bisa jadi karena pemakaian bahan organik yang belum menjadi kompos. Sebagai contoh, kotoran ayam yang ditaburkan langsung di atas tanah masih akan melakukan proses dekomposisi, sehingga suhunya tinggi, banyak bakteri dan memicu virus yang menyebabkan jamur putih. Hal ini memotivasi peserta untuk dapat mengetahui cara pembuatan kompos yang baik dan benar.

Prinsip-prinsip dasar pembuatan kompos yang pertama harus tersedia MOL sebagai decomposer. Kedua, tempat pengomposan harus tehindar/ terlindung dari sinar matahari dan hujan langsung. Area pengomposan diberi atap, bukan bak pengomposan yang ditutup seng. Ketiga, bahan kompos dicincang kecil-kecil, bisa manual dengan parang, chopper, atau blender. Hal ini bertujuan agar proses pengomposan berlangsung cepat (sekitar tiga minggu). Jika alami tanpa pemotongan, pengomposan bisa memakan waktu hingga tiga bulan. Keempat, bahan seimbang antara bahan basah dan bahan kering atau perbandingan Carbon dan Nitrogen sebanyak 40% dan 60%. Bahan basah contohnya kotoran hewan dan hijauan (rumput). Bahan kering contohnya serbuk gergaji dan sekam. Kelima, suhu terjaga antara 40-70°C. Jika suhu lebih dari 70°C, maka bakteri akan mati. Namun jika suhu  kurang dari 40°C, bakteri akan pergi. Keenami, kelembaban harus terjaga, jangan terlalu basah, namun juga jangan terlalu kering. Ketujuh, membunuh biji gulma dan pathogen. Kedelapan, menjaga sirkulasi udara (pertukaran dan perputaran udara). Karena itu pada tumpukan bahan kompos diselipkan batang bambu yang dilubangi pada setiap ruasnya secara berselang-seling sebagai jalan sirkulasi udara pada setiap jarak setengah meter.

Cara pembuatan kompos terdiri dari dua cara, yaitu cara lapis, dan cara campur. Prinsip pembuatan kompos cara lapis, yang pertama, lapisan paling bawah harus bahan yang kering supaya dapat menyerap air dari bahan yang basah. Kemudian lapisan dituangkan secara bergantian antara bahan kering (dengan ketebalan + 20cm) dan bahan basah kering (dengan ketebalan + 30cm). Sebagai contoh, susunan bahan kompos dari dasar adalah serbuk gergaji (20cm), rumput (30cm),  sekam (20cm),  dan paling atas kotoran hewan (30cm).

Setiap selesai menuangkan satu lapisan, sirami dengan MOL yang telah diencerkan 1:10. MOL yang paling baik untuk pengomposan adalah MOL nasi. Selain lebih murah, MOL berisi mikroorganisme lokal, berbeda dengan EM4 buatan pabrik. Selain mahal harganya (kurang lebih Rp 25.000,- per setengah liter), mikroorganisme dalam EM4 yang difabrikasi dari Jepang justru akan bersaing dengan mikroorganisme lokal pada tanah. Jika EM4 terdiri dari 4 mikroorganisme, maka MOL buatan sendiri dapat terdiri dari 7-12 jenis mikroorganisme. Kisaran jumlah MOL yang dibutuhkan untuk 1 ton bahan kompos adalah 2-3 liter yang akan diencerkan dengan perbandingan 1:10 (menjadi 20-30 liter).

Cara pembuatan kompos yang kedua adalah cara campur. Pada dasarnya semua bahan dicampurkan, dengan tetap mengingat komposisi bahan basah dan bahan kering sebanyak 40% dan 60%, menyirami dengan MOL setiap ketebalan 20-30cm untuk mempercepat dekomposisi, dan tetap memasang bambu berlubang untuk sirkulasi udara.

Bahan yang dicincang sangat menentukan kecepatan proses pengomposan. Sebagai contoh, jika bahan diperkecil dengan chopper, maka proses pengomposan bisa hanya 2 minggu saja. Jika bahan dipotong secara manual, dapat mencapai 3 minggu.

Bak kompos dibagi menjadi 3 petak. Gunanya untuk membalik bahan. Setiap minggu bahan dipindahkan ke petak berikutnya, dan dipanen pada minggu ketiga.

Kompos yang telah siap, dapat dicampurkan pada tanah, misalkan untuk sebuah lubang berukuran 40x40x40, dicampurkan 1 kg kompos, kemudian dibiarkan selama 3-7 hari agar memberikan proses adaptasi pada kompos dan tanah menjadi nutrisi. Baru kemudian ditanami.

Pada intinya, kompos bisa dibuat dari beraneka bahan asalkan bukan plastik, seperti hijauan (rumput, daun-daunan), serbuk gergaji, sisa tanaman (jerami, batang pisang, batang jagung, dan lain-lain), sekam padi, abu (abu sekam, abu dapur, abu sampah), kotoran hewan, limbah pasar, limbah dapur atau makanan sisa.

Tentunya ilmu ini menjadi bekal yang bermanfaat untuk mewujudkan rumah kompos di SD YPS Lawewu dalam rangka mewujudkan Program Sekolah Adiwiyata kita. Semoga bermanfaat!:)

(mh)

 


Print BeritaPrint PDFPDF


Baca juga yang ini :



Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Url  masukkan tanpa Http:// contoh :www.m-edukasi.web.id
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Forum Multimedia Edukasi  www.formulasi.or.id
Apakah Website sekolah ini bagus ?
Bagus sekali
Bagus
Kurang Bagus
Tidak Bagus
 
160068 Total Hits Halaman
39071 Total Pengunjung
57 Hits Hari Ini
3 Pengunjung Hari Ini
1 Pengunjung Online

Komunitas Edukasi

Forum Multimedia Edukasi www.formulasi.or.id